Ayu Utami Quote’s

Posted: February 22, 2013 in Uncategorized

Ayu-utami1

Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, seorang ilmuwan akan mencari pola, dan seorang beriman akan mencari Tuhan”
Ayu Utami

“untuk negriku Indonesia yang dengan sedih aku cinta”
Ayu Utami

“Modernisme adalah alat untuk memperalat. Takhayul adalah alat untuk diperalat”
Ayu Utami, Bilangan Fu

“Banyak hal dengan mudah terlupakan, seperti kita sama sekali lupa kenapa kita tidak bisa mengingatnya lagi. Sesuatu bisa begitu saja hilang dari ingatan, seperti arwah, seperti mimpi. Kita cuma bisa merasakan jejaknya pada diri kita tanpa bisa mengenalinya lagi. Kita tinggal benci, kita tinggal marah, tinggal takut, tinggal cinta. Kita tak tahu kenapa.”
Ayu Utami, Saman

“Dunia ini penuh dengan orang jahat yang tidak dihukum. Mereka berkeliaran. Sebagian karena tidak tertangkap, sebagian lagi memang dilindungi, tak tersentuh hukum, atau aparat.”
Ayu Utami, Saman

“manusia mungkin tidak punya kapasitas untuk mengampuni (barangkali hanya Tuhan yang bisa mengampuni), maka yang bisa kita lakukan adalah berdamai. Berdamai dengan sisi gelap yang tak bisa kita kuasai”
Ayu Utami, Manjali dan Cakrabirawa

“Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, apakah kamu percaya bahwa itu tidak bermakna?”
Ayu Utami, Manjali dan Cakrabirawa

“Tapi semua itu saya kira hanya bisa kita pakai untuk mengenali cintakasih. Jika kita menggunakannya sebagai pedoman, maka yang terjadi adalah sebuah hukum baru yang datang dari luar tubuh manusia, yang tidak dialami melainkan diterapkan. Kesucian, bahkan kesederhanaan, yang dipaksakan sering kali malah menghasilkan inkuisitor yang menindas dan meninggalkan sejarah hitam. Karena itu saya percaya bahwa Tuhan tidak bekerja dengan memberi kita loh batu berisi ide-ide tentang dirinya dan manusia. Tuhan bekerja dengan memberi kita kapasitas untuk mencintai, dan itu menjadi tenaga yang kreatif dari dalam diri kita.”
Ayu Utami, Saman

“Orang Jawa sekarang sudah menjadi orang Indonesia yang kering!” – Jacques Cherer”
Ayu Utami, Manjali dan Cakrabirawa

“Namun, kasih adalah suatu pengalaman yang tidak bisa diringkus dalam kata-kata. Ia tidak tercakup dalam penjelasan apapun. Juga penjelasan saya. Bahkan Paulus hanya berhasil menutur ciri-cirinya. Tapi semua itu saya kira hanya bisa kita pakai untuk mengenal cintakasih. Jika kita menggunakannya sebagai pedoman, maka yang terjadi adalah sebuah hukum baru yang datang dari luar tubuh manusia, yang tidak dialami melainkan diterapkan. Kesucian, bahkan kesederhanaan, yang dipaksakan seringkali malah menghasilkan inkuisitor yang menindas dan meninggalkan sejarah hitam. Karena itu saya percaya bahwa Tuhan tidak bekerja dengan memberi kita loh batu berisi ide-ide tentang dirinya dan manusia. Tuhan bekerja dengan memberi kita kapasitas untuk mencintai, dan itu menjadi tenaga yang kreatif dari dalam diri kita.”
Ayu Utami, Saman

“Mereka tak punya kemampuan menghapus cinta dan birahi. Mereka hanya bisa mencoba berdamai dengan perasaan itu dalam diri masing-masing”
Ayu Utami

“Segala hal memiliki lawannya. Bukan musuh. Melainkan pasangan yang berkebalikan … Dia yang tidak melihat bayang-bayangnya sendiri, dia tidak akan mendapatkan pembebasan.”
Ayu Utami, Lalita

“Tapi mencari suami memang seperti melihat toko perabot untuk setelan meja makan yang pas buat ruangan dan keuangan. Kita datang dengan sejumlah syarat geometri dan bujet. Sedangkan kekasih muncul seperti sebuah lukisan yang tiba-tiba membuat kita jatuh hati. Kita ingin mendapatkannya, dan mengubah seluruh desain kamar agar turut padanya. Laila selalu jatuh cinta pada lukisan, bukan meja makan.”
Ayu Utami, Saman

“Orang menyebutnya ILHAM. Tapi bisa saja itu datang dari suatu proses, setelah kita membiarkan diri mengalami yang lain”
Ayu Utami, Manjali dan Cakrabirawa

“sebab, hanya jika kita menemukan maka kita tahu sesuatu itu ada. Tapi jika kita tidak menemukan, kita tak bisa mengatakan bahwa sesuatu adalah tidak ada.
.118.”
Ayu Utami, Manjali dan Cakrabirawa

“… Segala yang rupa ini membantu kita mencapai yang tanpa rupa.”
Ayu Utami, Lalita

Ayu Utami

kurator/ayu-utami.jpg

Lahir di Bogor 21 November 1968, besar dan tinggal di Jakarta. Kuliah di Fakultas Ilmu Budaya (Sastra Rusia). Sebagai wartawan di masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Ia juga ikut mendirikan Komunitas Utan Kayu. Ayu adalah anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (2006-2009). Novel pertamanya, Saman, mendapat penghargaan novel terbaik DKJ 1998, dan kini telah diterbitkan dalam enam bahasa asing. Karena dianggap memperluas batas cakrawala sastra Indonesia, ia mendapat Prince Claus Award dari Belanda (2000) dan penghargaan dari Majelis Sastra Asia Tenggara (2008). Novel terbarunya, Bilangan Fu, meraih Khatulistiwa Literary Award 2008. Karyanya yang lain adalah novel Larung (2001), kumpulan kolom Si Parasit Lajang (2003), dan naskah drama Sidang Susila (2008). Kini ia bekerja sebagai kurator sastra di Komunitas Salihara. Buat informasi ajah w sangat ngefans sama tulisan wanita hebat ini. semoga kita bisa bertemu di komunitas Utan Kayu hahaha dosen w anak situ.

wew

<<[ @_iamrian / Berbagai Sumber }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s